Wow, Suami yang Perhatian Dapat Menurunkan Risiko Kematian Ibu Bersalin!

Oleh: Sayida Royatun Niswah, SST, MPH

Tahukah Anda bahwa angka kematian ibu bersalin di Indonesia masih tinggi?

Berdasarkan evaluasi Millenium Development Goals (MDGs) 2015, kasus kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia adalah 305 per 100.000 kelahiran hidup. Padahal target yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) adalah 102 per 100.000 kelahiran hidup.

90% kematian ibu bersalin disebabkan oleh 3 penyebab langsung, yaitu perdarahan, infeksi, dan eklamsia. Namun tingginya angka kematian ibu berkaitan pula dengan kurang memadainya cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan pada saat kehamilan dan pasca persalinan, status kesehatan dan gizi ibu hamil yang masih rendah, kepercayaan dan tradisi yang tidak menunjang persalinan yang aman, serta sangat berkaitan erat dengan peran suami.

Fakta di lapangan sering didapatkan kasus ibu bersalin sudah dalam keadaan darurat sehingga tidak tertolong nyawanya. Ini lantaran keluarga terdekat melarang dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memadai. Dalam hal ini perempuan masih dianggap tidak memiliki hak membuat kebijakan terkait kesehatannya sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa peran suami SIAGA (Siap, Antar, Jaga) memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku ibu selama kehamilan dan persalinan.

Suami semestinya mencurahkan perhatian penuh saat Sang Istri sedang hamil. Bentuk perhatian ini bisa diwujudkan dengan cara:

  1. Menyemangati dan mengantar istri untuk periksa kehamilan
  2. Turut memantau dan menjaga kesehatan istri
  3. Mengusahakan gizi terbaik terutama saat awal-awal kehamilan dan istri mengalami morning sickness
  4. Bekerjasama dalam mengurus rumah tangga
  5. Memberikan pijatan ringan terutama saat kehamilan mulai besar dan terasa berat
  6. Menghibur istri saat mengalami perubahan emosi karena pengaruh hormonal
  7. Memotivasi istri untuk mengikuti kelas kehamilan
  8. Membekali diri dengan ilmu cara merawat bayi sehingga mampu membantu istri merawat bayi dengan benar dan senang saat istri masih pemulihan pasca persalinan

Sumber: inovasee.com

Kesiagaan suami dalam menghadapi persalinan istri juga perlu dilatih dan dipersiapkan.

Beberapa hal yang perlu suami siapkan di minggu-minggu terakhir kehamilan, yaitu:

  • Selalu siaga ketika sewaktu-waktu istri menghubungi dan merasakan tanda persalinan (kontraksi yang sering dan bertambah kuat, keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir, keluar air ketuban) ataupun tanda-tanda bahaya kehamilan berupa perdarahan, mual muntah hebat, kepala berkunang-kunang, pandangan kabur, tangan dan kaki bengkak, demam tinggi >37,5°C lebih dari 2 hari, janin jarang bergerak, air ketuban merembes/pecah sebelum waktunya, jatuh sampai perut terbentur dan terjadi kontraksi
  • Mendiskusikan beberapa (lebih dari satu) tempat bersalin yang akan dituju bersama istri
  • Mempersiapkan kendaraan yang akan digunakan untuk menuju tempat bersalin dan memastikan kendaraan dalam kondisi baik dan bensin terisi penuh
  • Mempersiapkan segala barang yang akan dibawa ke tempat bersalin seperti pakaian istri, pakaian bayi, kartu identitas, buku pemeriksaan kehamilan, uang tunai atau kartu debit, makanan kecil, dan minuman

Hal-hal positif di atas dapat memunculkan ketenangan untuk ibu hamil. Perlindungan yang diberikan
suami juga akan sangat membantu ibu hamil untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terutama yang mengancam keselamatan
fisik dan jiwanya.

Yang terpenting adalah ibu hamil memiliki kepercayaan diri untuk membuat kebijakan bersama suami jika dihadapkan pada situasi darurat, agar segera mendapat pelayanan yang sesuai standar keselamatan sehingga meminimalisir risiko kematian akibat kegawatan kehamilan dan persalinan.

Referensi:

  1. Handayani, S. dan Kismi M. 2018. “Peran Suami dalam Kesehatan Ibu Hamil di Kota Semarang”. Jurnal Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama vol 6 Agustus 2018.
  2. Yulianti, D. 2018. “Peningkatan Kapasitas Sasaran Pelaksana Program Persiapan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dalam Pelaksanaan Strategi untuk Mengurangi Angka Kematian Ibu (AKI) di Kecamatan Panjang Kota Bandar Lampung. Jurnal Sakai Sambayan vol 2 Maret 2018.
  3. Kusumaningtyas, Shela. 2018. “Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia Tinggi, Riset Ungkap Sebabnya”. Kompas.com
  4. Hafid, E.M. 2007. “Hubungan Peran Suami dan Orangtua dengan Perilaku Ibu Hamil dalam Pelayanan Antenatal dan Persalinan di Wilayah Puskesmas Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang”. Jurnal Promosi Kesehatan vol 2 Agustus 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s